LATAR BELAKANG
Banyak para pengamat dan ahli pendidikan baik dari dalam maupun luar negeri yang menilai bahwa proses pembelajaran di dalam kelas tidaklah produktif. Karena telah terjadi “pemaksaan” pada peserta didik (siswa) untuk belajar dengan cara menerima materi dari guru dan menghafalkannya. Siswa secara pasif menerima informasi yang disampaikan oleh guru, sehingga proses belajar merupakan hal yang sangat membosankan, karena guru merupakan satu-satunya sumber informasi.
Pembelajaran yang lebih berorientasi pada penguasaan dengan penghafalan ini, memang terbukti berhasil untuk jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali siswa untuk memecahkan persoalan dalam kehidupan untuk jangka panjang. Hal ini terjadi karena masih tertanam pemikiran bahwa pengetahuan dipandang sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal, kelas berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, akibatnya ceramah merupakan pilihan utama strategi pengajaran. Dan cara ini dinilai gagal dalam mengembangkan dan menggali potensi siswa, untuk itu diperlukan :
1. Sebuah pendekatan belajar yang lebih memberdayakan siswa.
2. Kesadaran bahwa pengetahuan bukanlah seperangkat fakta dan konsep yang siap diterima, melainkan sesuatu yang harus dikontsruksi sendiri oleh siswa.
3. Kesadaran pada diri siswa tentang pengertian makna belajar bagi mereka, apa manfaatnya, bagaimana mencapainya, dan apa yang mereka pelajari adalah berguna bagi hidupnya.
4. Posisi guru yang lebih berperan pada urusan strategi bagaimana belajar, dari pada pemberi informasi.
KONSEP KONTEKSTUAL
KONSEP KONTEKSTUAL
1. Pengertian
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai anggota masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru. Sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksikan sendiri secara aktif pemahamannya.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuan. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi dari pada member informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri, bukan dari apa kata guru.
Dalam Contextual Teaching and Learning (CTL), diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam fikiran mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal dan mengingat pengetahuan, serta bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima, akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut, pengetahuan akan selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
2. Sistem Pendekatan Kontekstual
Pada dasarnya sistem pendekan kontekstual sudah dikembangkan pada tahun 1916 oleh John Dewey, sebagai filosofi belajar yang menekankan pada pengembangan minat dan pengalaman siswa. Contextual Teaching and Learning dikembangkan oleh The Washington State Consortium for Contextual Teaching and Learning, yang bergerak dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Salah satu kegiatannya adalah melatih dan memberI kesempatan kepada guru-guru dari Indonesia.
Pendekatan kontekstual lahir karena kesadaran bahwa kelas-kelas di Indonesia tidak produktif. Sehari-hari kelas-kelas di sekolah, diisi dengan “pemaksaan” terhadap siswa untuk belajar dengan cara menerima dan menghafal, untuk itu harus ada alternatif strategi pembelajaran yang lebih berpihak dan memberdayakan siswa.
Adapun yang melandasi pengembangan pendekatan kontekstual adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri, yang mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. Konstruktivisme
berakar pada filsafat pragmatis yang digagas oleh John Dewey pada awal abad ke 20. Sekarang ada kecendrungan untuk kembali pada pemikiran, bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna, jika anak mengalaminya langsung apa yang dipelajarinya, dan bukan sekedar mengetahuinya.